Oleh Eko Putra Ngudiraharjo
Sejenak meronta dalam pejam.
Membelakangi tatap berkaca duga.
Seribu hembus harap menyelam.
Membekap mata dan semua membuta.
Asa ini terpaku kemudian tertuju.
Beku hati mencair tanpa ragu.
Tapi itu dulu.
Karena kini nyata melaju.
Dan aku di tengah harap palsu.
Senyum yang terlontar menjadi batu.
Canda yang memeluk hangat seolah berpaku.
Dan tiap tutur katamu bak racun dalam teguk nafasku.
Kini hanya aku di antara seringai harap palsumu.
Tampilkan postingan dengan label KUMPULAN PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KUMPULAN PUISI. Tampilkan semua postingan
Kamis, 10 Januari 2013
KETIKA KEMARAU PANJANG (RINDU SENJA BERPELANGI)
Senja merancang.
Suara-suara tanpa sumbang.
Gemuruh anginpun tak curang.
Hanya menjatuhkan kering daun bergagang.
Ku tulis sebuah syair dari senyum pedagang.
Dari untung menggaris girang.
Meski lewat senja beraroma gersang.
Meski kering menunggu langit berlinang.
Dari mereka di garis tepi sawah.
Rindu menghayat bertanah.
Cemas merayap penuh gelisah.
Ketika tersisa kemarau setengah basah.
SETENGAH LAGI MASIH MENYATU DI JIWAKU
Oleh Eko Putra Ngudiraharjo
Sentuh hangat pagi menepuk.
Lukis garis ilalang membayang.
Titik pertemuan antara gelap dan terang tertekuk.
Melipat gelap meski pagi masih membungkuk.
Terdengar nyanyi penyair suara.
Seperti lantun rindu selepas mimpi.
Dari lelap mata hingga sadar membuka.
Tak lagi terhauskan peluk sang sepi.
Dari tempatku terduduk aku rindu.
Usap ketika jari memeluk rambutku.
Dari jarakku menatap aku membeku.
Terkaku dalam bujur arah rinduku.
Sentuh hangat pagi menepuk.
Lukis garis ilalang membayang.
Titik pertemuan antara gelap dan terang tertekuk.
Melipat gelap meski pagi masih membungkuk.
Terdengar nyanyi penyair suara.
Seperti lantun rindu selepas mimpi.
Dari lelap mata hingga sadar membuka.
Tak lagi terhauskan peluk sang sepi.
Dari tempatku terduduk aku rindu.
Usap ketika jari memeluk rambutku.
Dari jarakku menatap aku membeku.
Terkaku dalam bujur arah rinduku.
SMS UNTUK IBUKU
Sobat kecil tetaplah disni..
Dalam kantongku..
Aku lelah..Aku ingin tidur..
Aku ingin beristirahat hari ini..
Besok pagi-pagi tak usah bangunkan Aku..
Karena tak ada aktifitas esok hari..
Jika ada yang menghubungimu..
Diam kan saja..
Itu pasti Ibuku..
Jika dalam kotak masukmu ada pesan dari Ibuku..
Di dalam konsepmu telah ku siapkan balasannya..
Rabu, 09 Januari 2013
HARUSKAH MISKIN UANG, PELUANG JADI HILANG?
HARUSKAH MISKIN UANG, PELUANG JADI
HILANG?
Oleh : Menuk Supratmi
Kami menjerit...Kami memohon...
Tolanglah kami wahai para penguasa...
Tolonglah kami...
Jangan kau makan bekal kami untuk sekolah...
Lihatlah kami yang menangis karenamu...
Haruskah miskin uang, peluang kami hilang di tengah jalan...
Rangkullah kami, Angkatlah kami dari gerbang kebodohan ini...
Langganan:
Postingan (Atom)
Tampilkan postingan dengan label KUMPULAN PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KUMPULAN PUISI. Tampilkan semua postingan
Kamis, 10 Januari 2013
DARI HARAP AKU BERLAGU PADA MALAMKU
Oleh Eko Putra Ngudiraharjo
Sejenak meronta dalam pejam.
Membelakangi tatap berkaca duga.
Seribu hembus harap menyelam.
Membekap mata dan semua membuta.
Asa ini terpaku kemudian tertuju.
Beku hati mencair tanpa ragu.
Tapi itu dulu.
Karena kini nyata melaju.
Dan aku di tengah harap palsu.
Senyum yang terlontar menjadi batu.
Canda yang memeluk hangat seolah berpaku.
Dan tiap tutur katamu bak racun dalam teguk nafasku.
Kini hanya aku di antara seringai harap palsumu.
Sejenak meronta dalam pejam.
Membelakangi tatap berkaca duga.
Seribu hembus harap menyelam.
Membekap mata dan semua membuta.
Asa ini terpaku kemudian tertuju.
Beku hati mencair tanpa ragu.
Tapi itu dulu.
Karena kini nyata melaju.
Dan aku di tengah harap palsu.
Senyum yang terlontar menjadi batu.
Canda yang memeluk hangat seolah berpaku.
Dan tiap tutur katamu bak racun dalam teguk nafasku.
Kini hanya aku di antara seringai harap palsumu.
KETIKA KEMARAU PANJANG (RINDU SENJA BERPELANGI)
Senja merancang.
Suara-suara tanpa sumbang.
Gemuruh anginpun tak curang.
Hanya menjatuhkan kering daun bergagang.
Ku tulis sebuah syair dari senyum pedagang.
Dari untung menggaris girang.
Meski lewat senja beraroma gersang.
Meski kering menunggu langit berlinang.
Dari mereka di garis tepi sawah.
Rindu menghayat bertanah.
Cemas merayap penuh gelisah.
Ketika tersisa kemarau setengah basah.
SETENGAH LAGI MASIH MENYATU DI JIWAKU
Oleh Eko Putra Ngudiraharjo
Sentuh hangat pagi menepuk.
Lukis garis ilalang membayang.
Titik pertemuan antara gelap dan terang tertekuk.
Melipat gelap meski pagi masih membungkuk.
Terdengar nyanyi penyair suara.
Seperti lantun rindu selepas mimpi.
Dari lelap mata hingga sadar membuka.
Tak lagi terhauskan peluk sang sepi.
Dari tempatku terduduk aku rindu.
Usap ketika jari memeluk rambutku.
Dari jarakku menatap aku membeku.
Terkaku dalam bujur arah rinduku.
Sentuh hangat pagi menepuk.
Lukis garis ilalang membayang.
Titik pertemuan antara gelap dan terang tertekuk.
Melipat gelap meski pagi masih membungkuk.
Terdengar nyanyi penyair suara.
Seperti lantun rindu selepas mimpi.
Dari lelap mata hingga sadar membuka.
Tak lagi terhauskan peluk sang sepi.
Dari tempatku terduduk aku rindu.
Usap ketika jari memeluk rambutku.
Dari jarakku menatap aku membeku.
Terkaku dalam bujur arah rinduku.
SMS UNTUK IBUKU
Sobat kecil tetaplah disni..
Dalam kantongku..
Aku lelah..Aku ingin tidur..
Aku ingin beristirahat hari ini..
Besok pagi-pagi tak usah bangunkan Aku..
Karena tak ada aktifitas esok hari..
Jika ada yang menghubungimu..
Diam kan saja..
Itu pasti Ibuku..
Jika dalam kotak masukmu ada pesan dari Ibuku..
Di dalam konsepmu telah ku siapkan balasannya..
Rabu, 09 Januari 2013
HARUSKAH MISKIN UANG, PELUANG JADI HILANG?
HARUSKAH MISKIN UANG, PELUANG JADI
HILANG?
Oleh : Menuk Supratmi
Kami menjerit...Kami memohon...
Tolanglah kami wahai para penguasa...
Tolonglah kami...
Jangan kau makan bekal kami untuk sekolah...
Lihatlah kami yang menangis karenamu...
Haruskah miskin uang, peluang kami hilang di tengah jalan...
Rangkullah kami, Angkatlah kami dari gerbang kebodohan ini...
Langganan:
Postingan (Atom)


